Sengoku Basara 3: Puncak Kegilaan dan Keagungan Samurai di Zaman Perang
Dalam jagat game yang dipenuhi dengan cerita sejarah yang disuling menjadi hiburan, sedikit yang berani melangkah sejauh dan se"gila" waralaba Sengoku Basara. Dan pada tahun 2010, Capcom tidak hanya melangkah; mereka melompat dengan spektakuler lewat Sengoku Basara 3 (dikenal sebagai Sengoku Basara: Samurai Heroes di wilayah Barat). Game ini bukan sekuel biasa; ia adalah sebuah deklarasi, sebuah puncak dari segala hal yang membuat seri ini dicintai: aksi yang hiper-aktif, karakter yang sangat berkarisma, dan sebuah reinterpretasi sejarah Jepang yang liar dan tak terkendali.
Latar Belakang: Warisan Kegilaan
Sengoku Basara sendiri adalah saudara yang lebih flamboyan dan kurang serius dari seri Samurai Warriors Koei Tecmo. Dimulai pada 2005, seri ini dengan cepat membangun identitasnya sendiri melalui gaya seni yang berani, gerakan super yang keterlaluan, dan dialog yang penuh teriakan. Namun, Sengoku Basara 3 adalah proyek yang ambisius. Dibuat untuk memperingati ulang tahun ke-15 Devil May Cry dan ke-10 Sengoku Basara, game ini dirancang untuk menjadi yang terbesar, paling berani, dan paling terpolish dalam serinya.
"Pertempuran Sekigahara": Fondasi Cerita yang Historis (Tapi Tidak Really)
Game ini mengambil latar peristiwa Sekigahara (1600), pertempuran besar yang secara historis menentukan penyatuan Jepang di bawah Keshogunan Tokugawa. Namun, jangan harap akurasi sejarah di sini.
Alih-alih mengikuti buku teks, Sengoku Basara 3 membangun narasinya di sekitar dua poros utama: Tokugawa Ieyasu dan Ishida Mitsunari.
Tokugawa Ieyasu: Digambarkan sebagai pemuda idealis yang membawa filosofi "Kekuatan untuk Melindungi" (力は護るため, Chikara wa Mamoru Tame). Dia bukanlah politikus tua licik dari sejarah, melainkan seorang jenderal muda yang bertekad menciptakan dunia damai dengan kekuatannya, menggunakan tinjunya yang bersinar untuk menghancurkan segala rintangan.
Ishida Mitsunari: Di sisi lain, Mitsunari adalah pusat kegelapan. Dihantui oleh kematian tuannya, Toyotomi Hideyoshi, motivasinya murni: kebencian. Teriakan khasnya, "Benci! Aku membencimu!" menjadi simbol dari jalannya yang destruktif. Filosofinya adalah "Kekuatan untuk Menghancurkan" (力は滅ぼすため, Chikara wa Horobosu Tame).
Dualitas "Melindungi vs. Menghancurkan" ini menjadi inti dari konflik cerita. Pemain dapat memilih untuk bermain di sisi "Keshogunan" (Ieyasu) atau "Barat" (Mitsunari), dengan setiap sisi menawarkan perspektif cerita yang berbeda dan akhir yang unik. Karakter lain, seperti Date Masamune yang berkuda dengan enam pedang (dan berbicara dengan aksen Inggris-Jepang yang kacau) atau Sanada Yukimura yang menggebu-gebu, memiliki cerita mereka sendiri yang terjalin dengan konflik utama ini.
Gameplay: Seni Perang yang Spektakuler dan Tak Terbendung
Jika ada satu alasan mengapa Sengoku Basara 3 begitu dikenang, itu adalah gameplay-nya. Game ini adalah puncak dari genre hack-and-slash.
Basara Art & Ultimate Basara: Setiap karakter memiliki serangan super yang disebut Basara Art yang dapat diaktifkan kapan saja selama meter "Basara"-nya penuh. Namun, yang lebih dahsyat lagi adalah Ultimate Basara, sebuah gerakan penyelesaian ekstrem yang hanya bisa digunakan saat karakter dalam kondisi "kritis". Gerakan-gerakan ini bukan hanya kuat; mereka adalah tontonan visual. Bayangkan Date Masamune memanggil tornado naga biru, atau Oichi memanggil raksasa gelap untuk menginjak-injak musuh.
Sistem Senjata & Gaya: Setiap karakter bukan hanya memiliki satu set serangan; mereka memiliki gaya bertarung yang sepenuhnya unik. Chōsokabe Motochika bertarung dengan sebuah gitar besar yang mengeluarkan gelombang sonik. Tsuruhime memanggil para dewa dengan tarian ritualnya. Keberanian Capcom dalam mendesain move-set ini tidak ada duanya, membuat setiap karakter terasa seperti mainan baru yang harus dieksplorasi.
Pace yang Cepat dan Luwes: Berbeda dengan game musou lainnya yang kadang terasa berat, pergerakan di Sengoku Basara 3 sangat cepat dan responsif. Karakter dapat berlari, melompat, dan menghindar dengan lincah, menciptakan ritme pertempuran yang sangat dinamis dan memuaskan.
Mode Permainan: Selain cerita utama untuk setiap karakter, game ini dilengkapi dengan mode "Heroes Records" yang mengumpulkan semua pertempuran, serta mode "Rencana Perang" yang menantang pemain melalui serangkaian pertempuran dengan kondisi tertentu. Nilai repetisi-nya sangat tinggi.
Dewa-Dewa Perang: Galeri Karakter yang Tak Terlupakan
Sengoku Basara 3 memperkenalkan banyak karakter baru dan mendesain ulang yang lama. Beberapa yang paling ikonik:
Date Masamune: "The One-Eyed Dragon" yang cool dengan enam pedang dan jargon "BAZINGA!" (yang sebenarnya adalah "Let's Party!").
Sanada Yukimura: Rival abadi Masamune, penuh semangat dan berseru "UOOOOOH!" sambil menebas musuh dengan tombak berapi.
Ishida Mitsunari: Antagonis utama yang tragis dan memilukan, suara kebenciannya yang parau sangat menghunjam.
Tokugawa Ieyasu: Protagonis yang tidak biasa, mengandalkan tinju murni dan tekad baja.
Kobayakawa Hideaki: Karakter pendukung Mitsunari yang polos dan kuat, menambahkan lapisan emotional depth pada cerita.
Ōtani Yoshitsugu: Penasihat Mitsunari yang misterius dan sakit-sakitan, dengan desain yang mengerikan namun elegan.
Warisan dan Pengaruh: Lebih dari Sekadar Game
Kesuksesan Sengoku Basara 3 sangat besar, terutama di Jepang. Game ini tidak hanya terjual dengan sangat baik tetapi juga menjadi fenomena budaya.
Adaptasi Anime: Game ini diadaptasi menjadi anime berjudul Sengoku Basara: Samurai Kings yang sukses memperkenalkan kegilaan ini kepada audiens yang lebih luas.
Dampak pada Genre: Game ini menaikkan standar untuk aksi hack-and-slash, membuktikan bahwa genre ini bisa memiliki kedalaman mekanik sekaligus kepribadian yang berani.
Pintu Gerbang ke Sejarah: Banyak pemain yang mengakui bahwa ketertarikan mereka pada Periode Sengoku Jepang berawal dari game ini, mendorong mereka untuk mempelajari sejarah di balik karakter-karakter flamboyan tersebut.
Kesimpulan: Sebuah Mahakarya yang Tak Terbantahkan
Sengoku Basara 3 adalah sebuah permata. Ia adalah game yang tidak setengah-setengah dalam visi dan eksekusinya. Dari gameplaynya yang spektakuler dan mendalam, ceritanya yang emosional dan penuh dramatisasi, hingga karakternya yang begitu hidup dan berkarisma, setiap aspek game ini dibangun dengan passion dan kreativitas yang meluap-luap.
Ia berdiri bukan hanya sebagai game hack-and-slash terbaik dalam waralabanya, tetapi juga sebagai salah satu game aksi terhebat pada generasinya. Sengoku Basara 3 adalah sebuah pengingat bahwa video game adalah media untuk bersenang-senang, untuk menjadi epik, dan terkadang, untuk menjadi gila secara spektakuler. Sebuah warisan yang hingga hari ini masih dikenang dan dirindukan oleh para penggemarnya. Let's Party!